(calon) dokter, mengertilah

Solo (5/10) Miris sekali kejadian yang saya alami beberapa hari yang lalu. Di sebuah rumah sakit, saya mengalami sebuah kejadian, yang menurut saya seharusnya tidak terjadi.

Kejadian bermula ketika saudara saya harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit atas penyakit yang dideritanya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memilih rawat inap di sebuah rumah sakit, mengambil jenis perawatan kelas I. Sewaktu di UGD, kami ditanyai dokter siapa yang akan merawat pasien. Kami tidak berfikir panjang siapa dokter yang akan merawatnya. Bagi kami, siapapun dokternya, yang terpenting adalah kesembuhan pasien.

Sudah menjadi protokol bagi pasien rawat inap untuk mendapatkan haknya yaitu mendapat kunjungan (visit) dokter setiap harinya. Tidak ada jam pasti kapan dokter akan melakukan visit. Jadwal visit disesuaikan dengan kesibukan dokter yang bersangkutan.

Continue reading


Bangun Tidur

Solo (28/9) Hoaahmmmm… tampaknya sudah terlalu lama saya tertidur dari aktifitas tulis menulis. Karena memang di bulan-bulan seperti ini, saya masih harus menyesuaikan dengan banyak hal. Mulai dari jam tidur hingga jam mengajar.

Selama kurang lebih 2 (dua) bulan, saya telah melewati banyak hal yang tidak dapat terekam secara kronologis melalui blog ini. Tidak mudah memang untuk konsisiten menulis. Tapi akan selalu saya coba. Bukankah ada pepatah yang mengatakan.. “maju setengah langkah lebih baik daripada berdiam diri”..

Target awal saya tidaklah muluk-muluk. Saya akan menulis minimal sekali dalam seminggu dalam blog ini. Setelah itu, target saya adalah menulis setiap hari. Semoga.


STEI ITB (dalam cerita)

Solo (4/7) Setidaknya sampai hari ini, menurut saya ada 3 (tiga) cerita menarik yang perlu saya share-kan kepada Anda tentang mahasiswa STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) ITB. Cerita ini merupakan fakta tanpa rekayasa, based on true story. Masing-masing cerita menggambarkan keadaan dan pesan yang berbeda. Berikut kisah selengkapnya.

Cerita#1  Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, Minggu (22/11), saat Singgalang bertandang ke rumah sederhana milik keluarga Yudi April Nando, 19, anak hebat SMA 1 Pariaman peraih nilai tertinggi UN IPA SMA 2011. Rumahnya di Korong Buluah Kasok, Nagari Sungai Sariak, Padang Pariaman. Rumah itu amat sederhana, sesederhana anak hebat yang tinggal di dalamnya. Dinding rumah diplester seadanya. Waktu gempa, rumah ini mengalami kerusakan parah. Halaman ditumbuhi gulma panjang sejengkal. Di salah satu sudut tampak seonggok biji cokelat (kakao) sedang dijemur.

Continue reading


Pengumuman SNMPTN

Solo (28/6) Kurang dari 24 jam lagi, penantian lama itu akhirnya tiba. Hanya ada 2 (dua) kemungkinan kawan. Anda lolos seleksi atau tidak. Tidak ada keadaan dimana Anda berada diantara keduanya (baca : cadangan). Saat Anda membaca tulisan ini, palu sudah diketok, keputusan panitia sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat. Daftar nama-nama yang diterima sudah ada. Tinggal menunggu waktu saja kapan bisa diakses.

Kalau Anda berfikir bahwa hanya diri Anda sendiri yang galau, salah. Coba lihat raut muka kedua orang tua Anda! Coba lihat adik/kakak Anda! Tanpa menunjukkan ekspresinyapun, sebenarnya mereka juga galau. Jadi, ada teman galau kawan. Take it easy :-). Galau itu boleh saja. Kalau sampai tidak bisa tidur atau tidak doyan makan, hmmm.. tampaknya itu berlebihan.

Continue reading


Mandikan Aku Bunda

Solo (23/6) Diteras sebuah rumah sakit, pagi ini saya mencoba membuka beberapa jejaring sosial. Tidak tau kenapa akhir-akhir ini sulit mendapatkan jaringan 3G pada gadget saya. Begitu saya mendapatkan jaringan 3G dan membuka akun, mata saya tertuju pada sebuah note di facebook. Meski cerita ini lebih dikhususkan bagi orang tua, namun tak ada salahnya usia berapapun Anda, saya merekomendasikan untuk membacanya. Berikut kisah selengkapnya.

=================================================

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan  digelutinya. ”Why not the best”,  katanya selalu, mengutip  seorang mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ”selevel”, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 61 other followers